Home Berita Kirab Gunungan Hasil Bumi Meriahkan Pesta Kemarau Lawu 2026, Ribuan Warga Padati...

Kirab Gunungan Hasil Bumi Meriahkan Pesta Kemarau Lawu 2026, Ribuan Warga Padati Lereng Gunung Lawu

89
0

LINGKARSOLO, KARANGANYAR – Suasana lereng Gunung Lawu dipenuhi nuansa budaya dan rasa syukur dalam gelaran Pesta Kemarau Lawu 2026 yang berlangsung di kawasan Cemara Kandang hingga Bancolono, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tahunan yang digagas Trah Stamanan itu kembali menghadirkan berbagai tradisi khas masyarakat pegunungan yang sarat makna.

Acara ini menjadi wadah berkumpulnya masyarakat untuk merawat tradisi sekaligus mengungkapkan rasa terima kasih atas hasil bumi, keselamatan, dan keberkahan yang diterima selama setahun terakhir. Berbagai prosesi budaya digelar sejak pagi hingga malam hari dengan melibatkan warga dari berbagai daerah.

Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah Kirab Gunungan Hasil Bumi. Gunungan yang berisi aneka hasil pertanian tersebut diarak menuju lokasi acara sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat lereng Lawu. Setelah prosesi selesai, gunungan kemudian diperebutkan warga yang meyakini hasil bumi tersebut membawa berkah dan harapan baik.

Trah Stamanan sendiri merupakan komunitas persaudaraan yang tumbuh dari hubungan pertemanan dan semangat gotong royong yang telah terjalin sejak lama. Nama Stamanan diambil dari sebutan lama kawasan yang kini lebih dikenal sebagai Cemara Kandang, sehingga memiliki nilai historis bagi masyarakat setempat.

Selain kirab, pengunjung juga disuguhi beragam pertunjukan seni tradisional. Tari Srimpi tampil memukau dengan gerakan yang anggun, sementara Reog menghadirkan suasana meriah di tengah keramaian. Tidak hanya itu, pertunjukan Gamelan Wayang Sampah bersama Ki Lawu Warta, musik lesung, hingga atraksi perkusi turut menyemarakkan rangkaian kegiatan.

Sejumlah ritual budaya juga menjadi bagian penting dalam perhelatan tersebut. Mulai dari Umbul Dongo, Chaos Dahar, hingga Gebyur Badek Nyi Godrah digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Pada penutupan acara, suasana berubah lebih khidmat melalui penampilan Mantram Bumi yang dibawakan Fajar Satriadi. Prosesi itu menjadi refleksi spiritual tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

“Melalui Pesta Kemarau Lawu, kami berharap nilai kebersamaan, rasa syukur, serta kecintaan terhadap budaya dan alam tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” demikian disampaikan panitia penyelenggara secara serentak.

Pesta Kemarau Lawu 2026 tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih hidup dan terus mendapat tempat di tengah perkembangan zaman.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here