Home Berita Pembangunan Gereja di Mojo Solo Akhirnya Dimulai, Respati Minta Tak Ada Narasi...

Pembangunan Gereja di Mojo Solo Akhirnya Dimulai, Respati Minta Tak Ada Narasi Perpecahan

100
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Rencana pembangunan gereja di kawasan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, yang sempat menjadi perbincangan publik akhirnya memasuki tahap pelaksanaan. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah ibadah tersebut, Jumat (19/6/2026).

Prosesi berlangsung di kawasan Jalan Sungai Serang, tidak jauh dari Markas Brimob. Sejumlah unsur Forkopimda, DPRD Kota Surakarta, Kementerian Agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, hingga warga sekitar turut hadir menyaksikan dimulainya pembangunan gereja tersebut.

Respati menyampaikan rasa syukur karena seluruh tahapan yang diperlukan dapat dilalui dengan baik sehingga pembangunan bisa segera dilaksanakan. Menurutnya, keberadaan gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Kristiani, tetapi juga dapat menjadi ruang kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, ini berjalan dengan lancar. Gereja adalah fasilitas umum yang bisa digunakan para pemeluk agamanya dan masyarakat sekitar untuk berkegiatan. Mari kita kawal bersama,” kata Respati.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surakarta memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan yang sama kepada seluruh umat beragama. Karena itu, apabila seluruh persyaratan administrasi maupun teknis telah dipenuhi, pembangunan rumah ibadah tidak seharusnya terhambat.

“Jika semuanya persyaratan sudah dilengkapi dan ada komunikasi yang baik, saya rasa ini menjadi titik penting bagi kerukunan dan kebersamaan antar pemeluk agama di Kota Surakarta,” ujarnya.

Respati juga menyinggung adanya penolakan yang sempat muncul sebelum pembangunan dimulai. Meski demikian, ia menilai perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat tetap dijamin, namun harus dibarengi dengan semangat musyawarah dan mengutamakan kepentingan bersama.

“Silakan kebebasan berpendapat. Tetapi musyawarah mufakat dan mengedepankan kepentingan umum jauh lebih penting,” tegasnya.

Wali Kota menjelaskan bahwa proses menuju pembangunan gereja tersebut bukanlah perjalanan singkat. Upaya penyelesaiannya sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Wali Kota sebelumnya dan kini dapat diwujudkan setelah melalui berbagai tahapan komunikasi dengan masyarakat.

“Ini perjuangan panjang. Saya melanjutkan dari era sebelumnya. Kita selesaikan pelan-pelan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap sesama,” jelas Respati.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pihak untuk menjaga suasana kondusif dan menghindari penyebaran informasi yang dapat memicu konflik. Ia menilai semangat tabayun atau mencari kebenaran informasi menjadi kunci menjaga harmoni di tengah masyarakat.

“Yang terpenting saling menjaga perasaan satu sama lain. Kerukunan menjadi yang utama. Tabayun dari informasi yang benar itu lebih penting. Jangan ada narasi perpecahan,” katanya.

Pembangunan gereja tersebut telah mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dari Pemerintah Kota Surakarta. Nantinya bangunan berdiri di atas lahan seluas 401 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 129,81 meter persegi.

Pemkot Surakarta berharap pembangunan berjalan lancar hingga selesai dan keberadaan gereja nantinya dapat memperkuat semangat toleransi serta kerukunan antarumat beragama di Kota Bengawan.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here