LINGKARSOLO, SURAKARTA – Upaya memperkuat kerja sama antardaerah kembali terlihat lewat pertemuan antara Pemerintah Kota Pekalongan dan Surakarta. Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, datang langsung ke Solo dan disambut Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto, Minggu (5/5/2026) dalam suasana hangat penuh gagasan.
Pertemuan ini tak sekadar ajang silaturahmi. Ada banyak peluang kolaborasi yang dibahas, mulai dari sektor ekonomi kreatif, pariwisata, hingga pengembangan potensi lokal di masing-masing daerah.
Kunjungan tersebut juga bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Pekalongan. Dalam rangkaian kegiatan kunjungan, rombongan sempat bersilaturahmi dengan tokoh sepuh yang pernah berkiprah di pemerintahan Pekalongan, Syamsu Dyat. Karena usia beliau yang sudah 84 tahun, rombongan memilih datang langsung sebagai bentuk penghormatan.
“Alhamdulillah beliau masih sehat, bapak Syamsu Dyat. Justru kami yang datang ke sini sebagai bentuk penghormatan,” ujar salah satu perwakilan rombongan Pekalongan.
Dalam diskusi yang berlangsung, kedua kepala daerah sepakat bahwa kolaborasi lintas kota menjadi kunci menghadapi tantangan pembangunan ke depan. Setiap daerah dinilai punya keunggulan masing-masing yang bisa saling melengkapi.
Pekalongan dikenal sebagai kota batik, sementara Surakarta memiliki kekuatan di sektor budaya, pariwisata, dan industri kreatif. Salah satu rencana konkret yang mencuat adalah pembangunan koridor khusus batik Pekalongan di Pasar Klewer, Solo.
“Inisiatif ini sangat kami sambut baik. Ini menjadi ruang promosi sekaligus penguatan identitas batik Pekalongan di kota lain,” ungkap perwakilan Pemerintah Kota Pekalongan.
Jika terealisasi, koridor ini diharapkan menjadi etalase baru bagi batik Pekalongan sekaligus menambah daya tarik Pasar Klewer sebagai pusat tekstil tradisional.
Tak hanya soal batik, rombongan juga diajak melihat perkembangan industri coffee shop di Solo. Salah satu yang dikunjungi adalah Kuslan Coffee, yang dinilai menjadi contoh pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis gaya hidup.
Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto, menyebut tren coffee shop bukan sekadar fenomena sesaat. Menurutnya, ada peran besar anak muda dalam mengembangkan industri ini.
“Ini fenomena baru. Kami memang bukan daerah penghasil kopi, tetapi kami punya sumber daya manusia yang ahli dalam roasting dan pengolahan kopi. Dari situ nilai ekonominya meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kopi kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban dan sekaligus mendukung sektor pariwisata. Kehadiran coffee shop juga membuka lapangan kerja serta menghidupkan ruang sosial di kota.
Kedua daerah juga melihat peluang besar di sektor pariwisata. Dengan jarak yang relatif dekat, Pekalongan dan Solo berpotensi membuat paket wisata terintegrasi yang saling melengkapi.
“Intinya kita punya kewajiban yang sama untuk melayani masyarakat dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang baik. Kolaborasi ini menjadi jalan untuk mencapai itu,” ujar Respati.
Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk kerja sama yang lebih luas. Mulai dari pengembangan UMKM, promosi produk lokal, hingga pertukaran pengalaman pengelolaan kota akan terus didorong ke depan.
Redaktur : Silvia Agnes








