Home Berita Solo Batik Fashion 2026, Respati Ardi Minta Perajin Tak Jual Batik Tulis...

Solo Batik Fashion 2026, Respati Ardi Minta Perajin Tak Jual Batik Tulis dengan Harga Murah

71
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Solo Batik Fashion (SBF) 2026 menjadi salah satu upaya memperkenalkan karya batik sekaligus mendorong peningkatan nilai ekonomi produk budaya lokal. Dalam gelaran tersebut, Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengingatkan pelaku usaha agar tidak menjual batik dengan harga terlalu murah, terutama untuk produk yang dibuat melalui proses panjang dan memiliki nilai seni tinggi.

Pesan itu disampaikan Respati saat menghadiri Solo Batik Fashion 2026 di Graha Wisata Niaga, kawasan Taman Sriwedari, Surakarta, Sabtu (31/10/2026).

Ia menilai batik tulis dan batik cap memiliki nilai yang tidak bisa disamakan dengan produk fesyen biasa. Proses pembuatannya melibatkan keterampilan, kreativitas, serta kekayaan intelektual para seniman dan perajin yang perlu dihargai.

“Jualah yang mahal, jangan dimurah-murahkan,” pesan Respati kepada para pelaku usaha batik di Kota Solo.

Menurutnya, pelaku usaha perlu memiliki strategi untuk meningkatkan nilai jual produk. Salah satunya dengan mengedepankan kualitas dan keunikan karya, sehingga batik tidak hanya dipandang sebagai pakaian, tetapi juga hasil karya seni dan warisan budaya.

Respati juga mengingatkan pentingnya menghormati pencipta karya. Penghargaan terhadap proses dan kreativitas perajin dinilai dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi ekosistem usaha batik.

“Karena itulah warisan kita harus menghormati penciptanya, sehingga bisa menambah nilai ekonomi kita,” ujarnya.

Ia menambahkan, seni dan budaya menjadi salah satu kekuatan yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain. Batik tulis dan batik cap merupakan bagian dari kekayaan tersebut karena membutuhkan ketekunan serta pengorbanan dalam proses pembuatannya.

Solo Batik Fashion 2026 berlangsung selama dua hari, Sabtu (31/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026).

Ajang ini menghadirkan ruang pertemuan antara tradisi batik, inovasi, dan perkembangan tren fesyen modern. Selain peragaan busana utama yang dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB, rangkaian acara juga menghadirkan kegiatan Dekranasda mulai pukul 15.00 WIB.

Pesan Respati menjadi pengingat bahwa menjaga warisan batik tidak cukup hanya dengan mengenakannya, tetapi juga menghargai karya dan kesejahteraan orang-orang di balik proses pembuatannya.

Penampilan berbagai koleksi dalam Solo Batik Fashion 2026 juga memperlihatkan bahwa batik tidak hanya cocok dikenakan untuk acara resmi. Sejumlah desainer menghadirkan busana batik dengan beragam model, mulai dari gaya kasual, semi formal, hingga formal. Pilihan desain tersebut menunjukkan bahwa batik dapat mengikuti perkembangan tren fesyen dan digunakan dalam berbagai kesempatan. Dengan sentuhan kreativitas, batik bisa menjadi pilihan busana sehari-hari tanpa meninggalkan karakter budaya yang melekat di dalamnya.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here