Home Berita Tradisi Sengkeran Warnai Persiapan Dhaup Ageng Mangkunegaran, Gusti Sura Jalani Masa Pingitan

Tradisi Sengkeran Warnai Persiapan Dhaup Ageng Mangkunegaran, Gusti Sura Jalani Masa Pingitan

41
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Tradisi Sengkeran menjadi salah satu prosesi yang mengawali rangkaian Hajad Dalem Dhaup Ageng Mangkunegaran. Prosesi ini dijalani calon pengantin putri dalem, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, sebagai bagian dari persiapan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga bersama K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.

Sengkeran dilaksanakan Selasa (3/11/2026) di Bale Warni, kawasan Kaputren Pura Mangkunegaran, Surakarta. Melalui tradisi ini, calon pengantin perempuan menjalani masa sengker atau berada di dalam kamar untuk memusatkan diri serta mempersiapkan kesiapan batin menjelang pernikahan.

Rangkaian prosesi dimulai sekitar pukul 17.00 WIB dengan memasukkan sajen ke dalam kamar pengantin. Selanjutnya, pada pukul 18.00 WIB dilaksanakan sungkeman. Prosesi dilanjutkan dengan Sengkeran atau masuk kamar pada pukul 19.00 WIB.

Sasana khidmat juga mewarnai pelaksanaan tradisi tersebut. Kamar pengantin dipersiapkan dengan alas karpet. Sementara itu, sejumlah nini atau abdi dalem perempuan berusia di atas 55 tahun berada di depan kamar untuk melantunkan tembang macapat.

Tembang yang dilantunkan menjadi bagian dari suasana selama calon pengantin menjalani masa sengker. Tradisi ini bukan sekadar tahapan menjelang pernikahan, tetapi juga menjadi ruang bagi calon pengantin untuk menenangkan diri dan mempersiapkan batin sebelum menjalani babak kehidupan yang baru.

Tembang Macapat dilantunkan mulai pukul 19.30 hingga 20.30 WIB. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan sehari, melainkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni 3, 4, dan 5 November 2026.

Sengkeran menjadi pembuka rangkaian Dhaup Ageng yang berlangsung pada 3-7 November 2026. Setelah itu, pada 4 November dijadwalkan pemasangan Bleketepe dan Tuwuhan, Adang Sepisan, serta Nyantri.

Rangkaian berikutnya pada 5 November meliputi Langkahan, Siraman, Dodol Dawet, dan Midodareni. Sementara Dhaup Suci dan Panggih akan dilaksanakan pada 6 November, dilanjutkan Pahargyan di Pendapa Ageng.

Puncak rangkaian akan berlanjut pada 7 November melalui Kirab Pengantin yang mempertemukan kedua mempelai dengan masyarakat.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa setiap tata cara dalam Dhaup Ageng memiliki makna yang berkaitan dengan doa, restu keluarga, serta nilai-nilai yang diwariskan.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here