LINGKARSOLO, SURAKARTA – Suasana permainan anak-anak tempo dulu kembali terasa di Ndalem Joyokusuman, Baluwarti, Solo, Sabtu (20/06). Festival Bocah Dolanan 2026 resmi digelar dengan menghadirkan kembali berbagai dolanan lawas yang pernah menjadi bagian dari keseharian anak-anak era 90-an.
Festival yang mengusung tema “Rumah Beranak-Anak: Reaktivasi Permainan Tradisional sebagai Media Pendidikan Karakter” ini menjadi upaya untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya interaksi sosial dan pembentukan karakter anak.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi pihak-pihak yang terus berupaya menjaga keberadaan permainan tradisional di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut Astrid, dolanan tradisional memiliki nilai yang tidak bisa digantikan oleh permainan digital. Anak-anak dapat belajar bekerja sama, berkomunikasi, menghargai aturan, hingga membangun rasa percaya diri melalui permainan bersama.
“Nanti semaju apapun, semodern apapun Kota Solo, tetap tradisi, nilai leluhur, dan budaya di Kota Solo ini harus tetap kuat. Karena kita diwariskan sejarah budaya yang tinggi dari para leluhur,” ujar Astrid.
Ia menjelaskan, permainan tradisional menjadi salah satu cara sederhana untuk mengenalkan budaya sejak usia dini. Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui hubungan dengan teman sebaya dan lingkungan sekitar.
Festival Bocah Dolanan 2026 juga menjadi pengingat bahwa masa kecil generasi sebelumnya banyak diisi dengan aktivitas di luar rumah. Berbeda dengan kondisi saat ini, ketika sebagian anak lebih sering menghabiskan waktu dengan perangkat digital.
Astrid pun mengajak para orang tua untuk ikut memberikan contoh dalam penggunaan teknologi. Menurutnya, anak tidak bisa hanya diminta mengurangi penggunaan gadget jika orang dewasa di sekitarnya juga masih memiliki kebiasaan yang sama.
“Kita sering bilang anak jangan main gadget terus. Tapi orang tuanya juga harus melihat diri sendiri, jangan sampai anak diminta berhenti bermain gadget, sementara bapak ibunya sibuk tiktokan atau youtuban,” katanya.
Ia menambahkan, karakter anak terbentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, dan keteladanan dari lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan kembali permainan tradisional di rumah maupun lingkungan masyarakat.
Festival ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kota Surakarta, pegiat budaya, komunitas kreatif, dan berbagai pihak yang peduli terhadap pelestarian tradisi. Melalui kegiatan tersebut, dolanan lawas diharapkan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi kembali hidup di tengah anak-anak masa kini.
Wakil Walikota Surakarta berharap, Festival Bocah Dolanan dapat terus berkembang dan menjadi agenda budaya tahunan. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dengan nilai budaya lokal.
Redaktur : Silvia Agnes








