Home Berita Pawai Pembangunan Solo 2026 Makin Meriah, Busana Tradisional hingga Wayang Orang Warnai...

Pawai Pembangunan Solo 2026 Makin Meriah, Busana Tradisional hingga Wayang Orang Warnai Parade

60
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Pawai Pembangunan Kota Surakarta 2026 berlangsung meriah di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Jumat (21/8/2026). Ribuan warga turut menyaksikan parade yang menampilkan beragam kreativitas, mulai dari busana tradisional, budaya daerah, hingga pertunjukan wayang orang.

Pawai tahunan yang digelar Pemerintah Kota Surakarta tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Tahun ini, kegiatan juga membawa sejumlah pesan mengenai pelestarian budaya, penguatan ekonomi kreatif berbasis UMKM serta kepedulian terhadap lingkungan.

Sekitar 48 kontingen ikut ambil bagian dalam parade. Masing-masing menampilkan konsep dan kreativitas yang berbeda sehingga suasana sepanjang jalur pawai semakin semarak.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan dengan busana Kecik Demang. Busana tersebut merupakan perpaduan budaya yang membawa nuansa Solo tempo dulu. Konsep itu sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan kembali sisi historis dan daya tarik wisata budaya Kota Solo.

“Kostum ini memang akulturasi, dulu kalau tidak salah tadi disampaikan namanya Kecik Demang. Ini kita menikmati Solo tempo dulu, kita akan mengangkat pariwisata tempo dulu supaya masyarakat yang ke Solo akan mengingat untuk wisata tempo dulu,” ujar Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto.

Pesan tentang lingkungan juga menjadi bagian penting dalam pawai tahun ini. Hal tersebut terlihat dari penggunaan atribut satwa dan konsep yang mengangkat pelestarian alam.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani tampil mengenakan pakaian khas Dayak dari Kalimantan. Kendaraan pawai yang digunakan juga dihiasi boneka orangutan sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian satwa dan lingkungan.

“Menyayangi semesta dan mencintai lingkungan itu tidak hanya cukup dengan menjaga kebersihan atau mengelola sampah, tetapi lebih luas lagi. Kita harus menjaga lingkungan tetap hijau, terus menanam pohon, serta menjaga kelestarian alam dan satwa yang dilindungi seperti orangutan, gajah, dan badak,” kata Astrid.

Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah kondisi kemarau panjang yang meningkatkan risiko kebakaran. Selain itu, isu lingkungan yang dibawa dalam pawai juga mencakup persoalan sampah di TPA, antisipasi banjir serta mitigasi kekeringan.

Semangat menjaga lingkungan tersebut diselaraskan dengan slogan nasional Indonesia Asri dan visi Solo Berseri. Pawai juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tersebut dengan cara yang lebih dekat kepada masyarakat.

Kemeriahan semakin terasa ketika jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) ikut tampil dalam pertunjukan Wayang Orang. Mereka mengenakan kostum karakter pewayangan, salah satunya tokoh Kresna.

Perpaduan budaya, kreativitas, hiburan dan kampanye lingkungan membuat Pawai Pembangunan Solo 2026 tidak sekadar menjadi parade. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal dan mengenalkan potensi Solo kepada wisatawan.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here