LINGKARSOLO, KARANGANYAR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karanganyar terus memperkuat penanganan sampah melalui pengembangan fasilitas pengolahan dan pembenahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Soekosari. Kepala DLH Karanganyar, Sunarno, menegaskan bahwa pengelolaan sampah kini dilakukan secara bertahap dari hulu hingga hilir.
“Alhamdulillah, untuk penanganan sampah kita sudah berproses. Kemarin kita sudah mendapatkan anggaran untuk mesin RDF dan mesin kompos,” ujar Sunarno.
Saat ini, DLH telah memiliki satu unit mesin Refuse Derived Fuel (RDF) dengan dua layar. Ke depan, fasilitas tersebut direncanakan bertambah menjadi dua mesin dengan total empat layar sesuai perencanaan awal. Mesin RDF berfungsi mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif sehingga dapat mengurangi volume residu yang masuk ke TPA.
“Untuk RDF saat ini baru satu mesin dua layar. Sesuai rencana awal memang dua mesin empat layar,” jelasnya.
Selain RDF, fasilitas pengomposan juga disiapkan untuk mengolah sampah organik. Integrasi kedua fasilitas ini diperkuat dengan pembangunan akses jalan penghubung antara bangunan RDF dan pengomposan di kawasan TPA Soekosari.
DLH Karanganyar juga memperoleh anggaran sebesar Rp5 miliar dari Bantuan Keuangan (BK) Provinsi. Anggaran tersebut digunakan untuk betonisasi akses penghubung serta perbaikan sistem drainase di area TPA.
“Itu untuk betonisasi dari bangunan pengomposan kita konekkan dengan bangunan RDF. Sekaligus untuk perbaikan drainase, karena di TPA Soekosari semua aliran air masuk ke situ,” katanya.
Menurut Sunarno, kondisi geografis TPA yang menyerupai mangkuk menyebabkan seluruh limpasan air mengarah ke lokasi tersebut. Karena itu, pembangunan saluran drainase baru menjadi prioritas agar pengelolaan air lebih terkendali dan tidak mempercepat penumpukan sampah.
“Harapannya ini bisa menambah usia TPA hingga lima tahun ke depan,” tambahnya.
Penguatan penanganan sampah juga dilakukan dari sumbernya. Tahun ini, Kabupaten Karanganyar mendapatkan bantuan pembangunan TPS3R di enam titik, yakni Ngondosuli, Desa Suruh, Tasikmadu, Kelurahan Jungke, Desa Matesih, serta Desa Jaten di Munggur.
“Itu bantuan dari provinsi dalam bentuk anggaran yang direalisasikan menjadi bangunan fisik dan diserahkan ke desa,” jelas Sunarno.
Selain itu, DLH juga telah berkomunikasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memperoleh tambahan 15 titik TPS3R pada tahun yang sama.
“Insyaallah tahun ini juga ada bantuan 15 titik TPS3R dari kementerian,” ujarnya.
Di TPA Soekosari sendiri terdapat dua zona, yakni zona pasif dan zona aktif. Zona pasif seluas sekitar 10 ribu meter persegi telah ditutup secara landfill pada Oktober 2025.
“Untuk zona pasif alhamdulillah sudah kita tutup dan selesai,” ungkapnya.
Sementara itu, zona aktif seluas kurang lebih dua hektare baru tertangani sekitar 30 persen. Penutupan dilakukan bertahap seiring optimalisasi fasilitas pengolahan sampah.
“Zona aktif ini kita selesaikan bertahap, target maksimal akhir 2026 sudah tuntas,” tegas Sunarno.
Dengan penguatan teknologi, pembangunan infrastruktur, serta pengelolaan berbasis sumber, DLH Karanganyar menegaskan komitmennya menjadikan penanganan sampah sebagai prioritas pembangunan daerah.
Oleh : Widodo
Redaktur : Silvia Agnes








