Home Berita Wayang Beber Solo: Dari Perintah Raja hingga Bertahan di Zaman Modern

Wayang Beber Solo: Dari Perintah Raja hingga Bertahan di Zaman Modern

91
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Di balik kunjungan Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, ke kawasan Baluwarti, Jumat (28/2/2026) siang, perhatian tertuju pada satu warisan langka yang masih bertahan hingga kini, Wayang Beber. Seni tutur bergambar itu tersimpan dan dirawat di Ndalem Atmo Soepomo, sebuah rumah tua yang menjadi ruang hidup tradisi di lingkungan dalam benteng Keraton Surakarta Hadiningrat.

Wayang Beber berbeda dari wayang kulit pada umumnya. Media yang digunakan berupa lembaran bergambar yang dibuka atau “dibeber” satu per satu, sementara dalang mengisahkan alur cerita di hadapan penonton. Di ndalem tersebut, sejumlah karya menampilkan kisah klasik seperti Ande-Ande Lumut, Dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun, hingga Jaka Kembang Kuning.

Warisan ini tidak lepas dari sosok Raden Ngabei Atmo Soepomo, pelukis Wayang Beber sekaligus abdi dalem keraton. Ia dikenal sebagai Mantri Sasono Prabu yang mendapat kepercayaan langsung dari raja untuk membuat karya pesanan. Raden Ngabei Atmo Soepomo telah berkarya sejak masa pemerintahan Pakubuwana X, berlanjut pada era Pakubuwana XI, hingga Pakubuwana XII. Semua karya-karya nya bukan dibuat untuk diperjualbelikan, namun atas perintah Sinuhun sebagai bentuk pengabdian.

Pada masa itu, Wayang Beber digambar di atas kertas dluwang. Namun, karena faktor usia, banyak karya asli yang mengalami kerusakan. Sebagian di antaranya kemudian direproduksi, termasuk reproduksi koleksi dari Museum Radya Pustaka yang dikerjakan kembali setelah memperoleh izin resmi.

Regenerasi seni ini berlanjut melalui murid Atmo Soepomo, Joko Sriyono, yang mulai belajar sejak 1961. Ia menghadirkan Wayang Beber dengan pendekatan baru menggunakan kain mori dan pewarna tekstil, tanpa meninggalkan pakem cerita klasik. Salah satu karyanya bertajuk “Jaka Kembang Kuning” dibuat dalam gulungan sepanjang tiga meter.

Di tengah perkembangan zaman, Wayang Beber menjadi seni yang terbilang langka. Tidak banyak perajin yang masih menekuni teknik dan alur ceritanya secara konsisten. Karena itu, keberadaan karya-karya di Ndalem Atmo Soepomo menjadi penting sebagai penanda kesinambungan tradisi.

Dalam kunjungannya, Astrid melihat dan mengamati berbagai macam lukisan yang ada. Wayang Beber bukan hanya karya seni visual, tetapi juga bagian dari identitas budaya Surakarta.

Di Baluwarti, Wayang Beber tidak sekadar dipajang di dinding. Ia hidup sebagai cerita yang terus dibeber, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan budaya Jawa.

Di akhir kunjungannya, Astrid menuliskan pesan, “Atekan Tekun Atemah Tekan” , yang artinya “Siapa yang tekun, akan berhasil”.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here