LINGKARSOLO, SURAKARTA – Suasana berbeda terlihat di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surakarta, Sabtu (25/4). Tembok yang biasanya terkesan kaku kini mulai disiapkan menjadi media seni dalam kegiatan pra event Meeting of Styles Indonesia 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi antara pihak rutan bersama PT Indaco Warna Dunia. Mereka menggandeng puluhan seniman grafiti dari berbagai daerah untuk terlibat dalam agenda bertajuk Groundbreaking Facade “Cultural Prison Art”.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia melihat program ini sebagai langkah baru dalam menghadirkan wajah kota yang lebih kreatif dan tertata.
Menurut Astrid, sinergi lintas sektor seperti ini tidak hanya berdampak pada estetika lingkungan, tetapi juga membawa nilai edukasi bagi masyarakat. Ia menilai penataan kota memang tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
“Ini adalah langkah yang sangat positif. Kolaborasi antara Rutan dan PT Indaco menunjukkan bahwa penataan kota tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil dari kerja sama tersebut tidak sekadar memperindah kawasan, tetapi juga menghadirkan pesan budaya yang bisa dinikmati masyarakat luas. Bahkan, ruang yang sebelumnya tertutup kini berpotensi menjadi titik baru yang lebih hidup.
Dalam kegiatan ini, tembok rutan yang sebelumnya polos akan diisi karya grafiti bertema budaya, nasionalisme, hingga pesan sosial. Proses kreatif dilakukan secara terkurasi agar tetap selaras dengan nilai yang ingin disampaikan.
Astrid juga menyoroti pentingnya penyediaan ruang legal bagi para seniman jalanan. Menurutnya, langkah ini bisa menjadi solusi dalam mengurangi aksi vandalisme liar yang masih kerap ditemukan di sejumlah titik kota.
“Kami melihat ini sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Selain penindakan, pemerintah juga perlu menghadirkan solusi,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan ruang ekspresi yang resmi akan membantu menyalurkan kreativitas anak muda ke arah yang lebih positif. Dengan begitu, energi kreatif tidak lagi disalurkan secara sembarangan.
Pemerintah Kota Surakarta sendiri terus mendorong hadirnya ruang-ruang kreatif publik berbasis komunitas. Program ini diarahkan untuk menghidupkan berbagai sudut kota dengan sentuhan visual yang mencerminkan identitas lokal.
Selain itu, pengembangan seni publik juga diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata. Kawasan yang sebelumnya biasa saja bisa berubah menjadi destinasi menarik dengan nilai estetika dan edukasi.
Astrid mengajak seluruh elemen, mulai dari komunitas, swasta, hingga institusi, untuk terus terlibat dalam program pembangunan kota. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan Solo yang lebih maju.
“Harapannya, kolaborasi seperti ini tidak berhenti di sini. Semua pihak bisa ambil peran dan terhubung dengan program-program Pemkot,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, Rutan Surakarta tak lagi sekadar tempat pembinaan, tetapi juga mulai bertransformasi menjadi ruang ekspresi seni yang membawa pesan positif bagi masyarakat.
Redaktur : Silvia Agnes








