Home Berita WIG Talks 2026, GKR Bendara Ungkap Sejarah di Balik Rasa Manis Kuliner...

WIG Talks 2026, GKR Bendara Ungkap Sejarah di Balik Rasa Manis Kuliner Jogja

78
0

LINGKARSOLO, YOGYAKARTA – Kuliner tradisional tidak hanya berkaitan dengan makanan yang disajikan di atas meja. Di dalamnya terdapat cerita, kebiasaan, sejarah, hingga identitas diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks yang digelar di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).

Panel Pertama mengusung tema “Gastronomy as Identity and Industry: Indonesia’s Socio-Economic Engine”, forum tersebut membicarakan gastronomi dari sisi identitas budaya sekaligus peluang pengembangannya sebagai bagian dari industri.

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa upaya membawa kuliner tradisional ke zaman modern memiliki tantangan tersendiri.

Menurut GKR Bendara, perubahan kemasan diperlukan agar produk budaya dapat diterima oleh pasar modern. Namun, perubahan tersebut tidak seharusnya menghilangkan nilai yang ada di dalamnya.

“Mengubah kemasan tanpa mengubah isi adalah tantangan melestarikan budaya dalam era modern saat ini,” kata GKR Bendara.

Ia juga menyoroti bahwa proses tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Mulai dari orang yang membuat kuliner, pihak yang mengemas, hingga pasar yang menjadi sasaran, semuanya memiliki peran.

“Mana yang paling sulit, membuatnya, mengemasnya, atau melatih pasar untuk memasarkannya? Semuanya harus saling berkolaborasi dan melengkapi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, GKR Bendara turut membawa pembahasan pada karakter kuliner Yogyakarta yang selama ini dikenal dengan cita rasa manis. Menurutnya, rasa tersebut bukan sekadar pilihan lidah, tetapi memiliki cerita yang berkaitan dengan perjalanan budaya.

“Kita akrab dengan anggapan bahwa makanan Jogja itu selalu manis, rasanya sangat manis,” ungkapnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa karakter rasa manis juga ditemukan dalam minuman yang disajikan di lingkungan Keraton. Salah satunya teh yang dikenal memiliki rasa manis kuat. Bahkan, menurut penjelasannya, versi aslinya menggunakan gula dalam jumlah cukup banyak.

GKR Bendara menyebut karakter tersebut memiliki latar belakang sejarah. Ia mengaitkannya dengan kehidupan di lingkungan Keraton pada masa Sultan ke-7.

Karena itu, menurutnya, kuliner yang mampu bertahan selalu memiliki cerita di baliknya. Cerita tersebut menjadi bagian penting yang perlu diperkenalkan kembali, terutama kepada generasi muda.

“Pada dasarnya, setiap kuliner yang bertahan, memiliki sebuah cerita di baliknya,” tuturnya.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa gastronomi dapat menjadi cara untuk mengenalkan kembali sejarah dan budaya melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni makanan dan minuman.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here