LINGKARSOLO, YOGYAKARTA – Kekayaan kuliner kawasan Joglosemar atau Jogja-Solo-Semarang menjadi bagian penting dalam pembahasan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talk and Forum 2026. Kegiatan tersebut digelar di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026). Yogyakarta merupakan kota kedua pelaksanaan WIG 2026, setelah sebelumnya pembukaan digelar di Surakarta.
WIG 2026 mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri kuliner, chef, pelaku ekonomi kreatif serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan gastronomi Indonesia.
Sejumlah topik dibahas dalam lima panel, mulai dari gastronomi sebagai identitas dan penggerak sosial ekonomi, pengembangan bisnis makanan dan minuman, potensi gastrotourism, hubungan gastronomi dengan ekonomi kreatif, hingga strategi membangun cerita kuliner Indonesia untuk pasar global.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, Wonderful Indonesia Gastronomy merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi gastronomi terkemuka di dunia.
“Wonderful Indonesia Gastronomi adalah program prioritas Kementerian Pariwisata, intinya adalah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi gastronomi terkemuka di dunia,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, gastronomi tidak sebatas makanan yang dinikmati wisatawan. Gastronomi juga berkaitan dengan budaya dan dapat membuka peluang lebih luas bagi chef serta profesional kuliner Indonesia.
“Tahun ini kita selenggarakan di Solo dan Jogja yang membawa lebih dekat pada akar gastronomi kota yang terkenal bersama sejarah, tradisi, kearifan lokal dan budaya kita,” katanya.
Pemilihan Solo dan Yogyakarta tidak terlepas dari upaya memperkuat kawasan perjalanan Jogja, Solo dan Semarang. Kawasan yang dikenal sebagai Joglosemar ini memiliki kekayaan budaya dan kuliner yang dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan wisatawan.
Selain memperkuat pariwisata, gastronomi juga memiliki hubungan dengan diplomasi antarnegara. Widiyanti menyebut, gastro diplomasi Indonesia dan Prancis menjadi salah satu implementasi hubungan kerjasama antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pertukaran chef, teknik memasak hingga budaya kuliner antara kedua negara.
Dari sisi ekonomi, sektor kuliner disebut memiliki kontribusi besar dalam perekonomian nasional.
Namun, pengembangan gastronomi juga menghadapi tantangan pelestarian makanan lokal. Dari 207 jenis makanan Indonesia yang tercatat oleh Kementerian Kebudayaan, sekitar 45 persen disebut mengalami kepunahan.
Karena itu, pengenalan kuliner tradisional menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi. Makanan lokal tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi.
Indonesia sendiri menargetkan kunjungan wisatawan di kisaran 16-17 juta di tahun 2026 ini. Pengalaman kuliner diharapkan menjadi salah satu bagian perjalanan wisata, termasuk ketika wisatawan menjelajahi kawasan Joglosemar.
Selain forum, WIG 2026 juga menghadirkan Artisan Market yang melibatkan 21 UMKM dan 13 kolaborator. Produk lokal tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan potensi daerah dengan pasar dan jejaring yang lebih luas.
Melalui WIG 2026, Menteri Pariwisata berharap, kuliner Joglosemar mendapat ruang untuk diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan gastronomi Indonesia, sekaligus dikembangkan dari tradisi lokal menuju pasar global.
Redaktur : Silvia Agnes









