LINGKARSOLO, SURAKARTA – Karya-karya sastrawan W.S. Rendra akan kembali dihidupkan melalui konser musikalisasi puisi bertajuk Mengolah Daya Hidup: Memperingati 91 Tahun WS Rendra. Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 9 November 2026, di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
Konser tersebut disiapkan sebagai ruang untuk mengenalkan kembali pemikiran dan semangat berkesenian Rendra kepada masyarakat, terutama generasi muda. Puisi-puisinya akan dipadukan dengan musik, tari, dan teater melalui kolaborasi seniman dari berbagai generasi.
Rencana pertunjukan itu disampaikan dalam konferensi pers di Pendopo TBJT, Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini digagas Yayasan Bengawan Solo Gong dengan melibatkan sejumlah seniman yang memiliki hubungan dengan perjalanan kesenian Rendra maupun mereka yang ingin meneruskan semangatnya.
Produser konser, Farchan Asy’ary, menilai karya Rendra masih memiliki relevansi dengan kehidupan saat ini. Melalui pertunjukan tersebut, sastra diharapkan tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami persoalan sosial dan kemanusiaan.
Konser ini akan melibatkan sejumlah nama, di antaranya Sawung Jabo, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Didi Nini Thowok, Suzan Piper, Iwan Burnani Toni, dan Sruti Respati. Beragam latar belakang para penampil akan menghadirkan perpaduan musik, pembacaan puisi, serta ekspresi seni panggung.
Sutradara pertunjukan, Iwan Burnani Toni, menjelaskan bahwa konsep acara berangkat dari pemikiran Rendra mengenai daya hidup. Seni dan sastra, menurutnya, bukan sekadar karya untuk dinikmati, melainkan juga media untuk merespons persoalan di tengah masyarakat.
Melalui penggarapan musik dengan pendekatan yang lebih kontemporer, puisi-puisi Rendra akan disajikan agar tetap dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Pertunjukan ini sekaligus menjadi upaya membawa kembali gagasan sang sastrawan ke ruang publik.
Sementara itu, manajer produksi konser, Sruti Respati berharap, kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk lebih mengenal sastra Indonesia. Ia menilai generasi muda perlu mendapat ruang untuk berinteraksi dengan karya para sastrawan Tanah Air.
“Jangan hanya membaca Shakespeare atau membaca yang lain, tapi bacalah karya-karya Mas Rendra,” kata Sruti.
Menurutnya, pengenalan karya sastra Indonesia perlu dilakukan secara konsisten agar kekayaan pemikiran para sastrawan tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Pemilihan Solo sebagai lokasi pertunjukan juga memiliki makna budaya. Kota ini menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Rendra sehingga penyelenggaraan konser di Solo diharapkan dapat memperkuat hubungan masyarakat dengan warisan kesenian tersebut.
Melalui konser Mengolah Daya Hidup, penyelenggara ingin menghadirkan ruang pertemuan lintas generasi sekaligus menjaga agar karya dan pemikiran W.S. Rendra tetap dikenal.
Redaktur : Silvia Agnes









