Home Berita Fespin 2026 di Solo Makin Mendunia, Festival Payung Raih Top 3 KEN

Fespin 2026 di Solo Makin Mendunia, Festival Payung Raih Top 3 KEN

135
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Festival Payung Indonesia (Fespin) ke-13 kembali digelar di Taman Balekambang, Kota Solo, Jumat (4/9/2026). Tahun ini, festival mengusung tema “Catra Padi, Sepayung Dewi Sri” dengan menghadirkan karya seni, pertunjukan, pameran, hingga kegiatan ekonomi kreatif.

Festival tersebut tidak hanya diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah peserta dari mancanegara juga hadir untuk mengikuti pameran maupun pertunjukan selama tiga hari pelaksanaan Fespin, 4-6 September 2026.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani yang hadir dalam pembukaan mengatakan, Fespin menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kebudayaan dengan kreativitas masyarakat.

“Festival ini bukan sekadar tentang payung. Di balik sebuah payung ada karya, ada kreativitas, ada tradisi, ada cerita, dan ada semangat untuk terus menciptakan sesuatu yang baru,” kata Astrid.

Fespin ke-13 juga mendapat penghargaan Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata RI. Penghargaan tersebut diserahkan Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata RI Raden Wisnu Sindhutrisno kepada Astrid, kemudian diberikan kepada Founder Festival Payung Indonesia Heru Mataya.

Astrid mengajak masyarakat ikut menikmati rangkaian Fespin sekaligus memberikan apresiasi kepada seniman, artisan, komunitas dan pelaku UMKM.

“Kita ingin menunjukkan bahwa Solo tidak hanya memiliki warisan budaya yang kuat, tetapi juga memiliki kreativitas yang terus tumbuh,” katanya.

Founder Festival Payung Indonesia, Heru Mataya  menjelaskan, penyelenggaraan tahun ini semakin memperluas jejaring internasional. Peserta dari sejumlah negara datang untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan Fespin.

“Dan tahun ini kita kedatangan dari empat negara, dari Cina, Korea, dari India, Jepang, dan Pakistan juga. Untuk hadir di dalam pameran maupun pertunjukan-pertunjukannya,” kata Heru.

Menurut Heru, keberadaan peserta internasional menjadi bagian dari upaya menjadikan Fespin sebagai ruang pertukaran budaya. Namun, ukuran keberhasilan festival tidak hanya dilihat dari banyaknya pengunjung maupun transaksi.

“Keterlibatannya semakin banyak, kolaborasinya semakin banyak. Jadi kolaborasi festival ini menjadi sangat penting ukurannya,” ujarnya.

Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, Fespin mencatat hampir 32 ribu pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Ramainya peserta dan wisatawan juga dinilai memberikan dampak terhadap sektor ekonomi di Kota Solo.

Heru menyebut aktivitas festival turut menggerakkan perhotelan, kuliner, transportasi dan UMKM yang terlibat dalam kegiatan.

Jumlah seniman dan artisan yang terlibat mencapai sekitar 3.000 orang.

Selain pertunjukan, UMKM yang terlibat dalam Fespin juga melalui proses kurasi. Heru mengungkapkan bahwa kurasi dilakukan untuk menjaga kualitas karya dan produk yang ditampilkan selama festival.

“Jadi memang festival ini selalu kita ada kuratorialnya, jadi tidak semua bisa masuk di festival ini. Kita selalu melakukan kurasi dalam kegiatan ini,” katanya.

Kurasi juga diterapkan untuk kegiatan internasional dengan melibatkan kurator dari Korea. Menurutnya, keberadaan kurator penting agar kualitas festival tetap terjaga.

Di sisi lain, Fespin juga diarahkan untuk memperkuat pelestarian payung tradisi Indonesia. Heru berharap festival tersebut dapat menjadi ruang agar cerita dan perkembangan payung tradisional terus hidup.

“Harapannya memang Festival Payung Indonesia menjadi satu festival yang berdampak secara ekonomi kreatif juga. Dan juga ini lebih punya manfaat bagi pelestarian payung tradisi kita maupun pengembangannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian payung tradisi membutuhkan kegiatan yang mampu mempertemukan tradisi dengan perkembangan kreativitas.

“Payung tradisi kita menjadi ikon pusaka Indonesia,” tandas Heru.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here