lingkarsolo.com – Permasalahan di kota Surakarta yang sampai dengan saat ini masih terus menjadi fokus Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Solo adalah sampah. Ditemui di sela-sela kegiatan Diskusi Kelompok Terbatas Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta tahun 2026 di Megaland Hotel, Kamis, 22 Januari 2026, Plt. Kepala DLH Solo, Agung Riyadi mengatakan bahwa permasalahan sampah di kota Solo sudah menjadi isu lokal maupun nasional, sehingga masuk dalam skala prioritas.
“Kita harus cermat, agar sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo tidak Overload. Jangan sampai sampah berceceran di jalan, di lingkungan perumahan warga” ungkap Agung.
Data yang ada di DLH saat ini, sampah yang masuk ke TPA 350 ton sehari, dan baru bisa diolah 100 ton sehari. Sehingga terjadi penambahan sampah 250 ton setiap harinya.
DLH Solo berupaya mengatasi sampah dengan menggencarkan bank-bank sampah di tiap daerah, dan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
“Saat ini Solo baru memiliki 1 TPS3R Mojo Makmur. Tahun 2026 ini, direncanakan akan dibangun TPS3R di 4 kecamatan. Pembangunan TPS3R ini merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU)”. paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Komisi III DPRD Solo, Sonny mengungkapkan bahwa pihaknya tidak henti hentinya melakukan sidak di TPA Putri Cempo. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dan melihat secara langsung kondisi TPA dan pengolahan yang dilakukan di lokasi.
“Saat ini, 20 hingga 25 meter tinggi sampah di TPA Putri Cempo belum diolah.” katanya.
Sonny berharap, dengan terus melakukan koordinasi, mencari solusi bersama, permasalahan sampah yang ada di kota Solo akan terselesaikan dengan baik.
Redaktur : Silvia Agnes








