LINGKARSOLO, SURAKARTA – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani melakukan peninjauan langsung ke dapur program pemenuhan gizi bagi anak-anak di Kota Solo. Kunjungan ini dilakukan bersama Satgas MBG Kota Surakarta pada Kamis (12/3) setelah muncul sejumlah keluhan dari masyarakat melalui media sosial.
Monitoring dilakukan di dua lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni di wilayah Gandekan, Kecamatan Jebres serta dapur SPPG di RT 6 RW 7 Karangasem, Kecamatan Laweyan.
Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan program pemenuhan gizi berjalan sesuai standar. Sejumlah laporan yang masuk melalui pesan langsung maupun kolom komentar media sosial menjadi perhatian khusus sehingga perlu dilakukan pengecekan di lapangan.
“Ini merupakan tindak lanjut dari monitoring sebelumnya sekaligus merespons aduan masyarakat, termasuk dari penerima manfaat program MBG. Kami dari pemerintah daerah ingin memastikan secara langsung kondisi dapur di lapangan,” ujar Astrid saat meninjau lokasi.
Dalam kunjungan tersebut, Astrid bersama tim melihat secara detail proses operasional dapur. Mulai dari tahap penyiapan bahan makanan, proses memasak, hingga persiapan distribusi makanan kepada para penerima manfaat.
Selain itu, rombongan juga berdiskusi dengan pengelola dapur serta kepala SPPG mengenai berbagai aspek pengelolaan. Pembahasan meliputi produksi makanan, perencanaan menu dan kebutuhan gizi, hingga pengelolaan anggaran operasional dapur.
Menurut Astrid, dapur SPPG harus dikelola dengan sistem yang seimbang antara tiga komponen utama, yaitu produksi makanan, pengelolaan keuangan, serta perencanaan menu dan gizi. Ketiganya harus berjalan selaras agar kualitas makanan tetap terjaga.
“Kalau saya bilang, tiga komponen dapur SPPG itu produksi, keuangan, dan juga perencanaan menu serta gizi. Tiga-tiganya harus sinkron. Jangan sampai karena keterbatasan anggaran kemudian variasi menu menjadi kurang,” jelasnya.
Dari hasil monitoring sementara, tidak ditemukan persoalan besar dalam pengelolaan dapur. Meski begitu, pemerintah tetap memberikan beberapa catatan perbaikan, khususnya terkait variasi menu makanan.
Astrid menilai variasi menu penting agar anak-anak, terutama siswa sekolah dasar, tetap tertarik untuk mengonsumsi makanan yang diberikan. Dengan begitu, makanan yang sudah disiapkan tidak terbuang sia-sia.
“Yang penting menunya aman dari bahan-bahannya, cara pengolahannya baik, dan ada kombinasi protein hewani, protein nabati, serta buah. Variasi menu juga penting supaya anak-anak mau makan,” katanya.
Selain menyoroti variasi menu, Astrid juga mengingatkan agar pengaturan porsi makanan tetap diperhatikan, terutama selama bulan Ramadan. Penyesuaian perlu dilakukan antara porsi besar dan porsi kecil sesuai kebutuhan penerima manfaat.
Ia menegaskan bahwa meskipun ada penyesuaian selama Ramadan, kualitas gizi makanan tidak boleh menurun. Program pemenuhan gizi harus tetap berjalan optimal demi mendukung kesehatan anak-anak.
Ke depan, Pemerintah Kota Surakarta akan terus melakukan monitoring dapur secara berkala sebagai langkah pengawasan. Hal ini juga menjadi upaya antisipasi setelah muncul beberapa keluhan mengenai layanan dapur serupa di daerah lain di Jawa Tengah.
“Kami ingin mengantisipasi sejak awal. Karena itu hari ini kami keliling melihat langsung kondisi dapur. Di Solo fokusnya memastikan proses produksi berjalan baik dan komunikasi antar pihak tetap terjaga,” pungkasnya.
Melalui kegiatan monitoring tersebut, pemerintah berharap program pemenuhan gizi di Kota Solo dapat berjalan maksimal. Selain aman dikonsumsi, makanan yang disajikan juga diharapkan memiliki variasi menu yang disukai anak-anak sehingga tujuan program dapat tercapai.
Redaktur : Silvia Agnes








