lingkarsolo.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta merespons berbagai aduan masyarakat terkait persoalan sampah, khususnya keluhan bau tidak sedap yang dirasakan warga di sejumlah wilayah kota Surakarta. Aduan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah kota seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan faktor cuaca yang memengaruhi kondisi lingkungan.
Ditemui di sela sela kegiatan diskusi kelompok terbatas DLH belum lama ini, Plt. Kepala DLH Kota Surakarta, Agung Riyadi menjelaskan bahwa kondisi cuaca berpengaruh terhadap munculnya bau sampah, terutama pada sistem drainase dan gorong-gorong. Dalam kondisi tertentu, gorong-gorong yang ditutup dapat menyebabkan aliran air tidak lancar hingga berpotensi meluap. Namun, jika gorong-gorong dibuka, bau tidak sedap justru dapat keluar dan dirasakan warga sekitar.
“Kondisi ini menjadi tantangan di lapangan. Menutup gorong-gorong berisiko menyebabkan genangan, sementara membukanya bisa memunculkan bau,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait dampak pencemaran udara, DLH memastikan telah mempunyai alat ukur indeks kualitas udara. Pengukuran tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas udara tetap berada dalam ambang batas aman dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat.
Selain persoalan bau, DLH juga terus melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Armada pengangkut sampah telah tersedia di setiap kelurahan guna mencegah terjadinya penumpukan maupun antrean pembuangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Agug Riyadi menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat, terutama melalui pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, menjadi kunci utama agar pengolahan di TPA dapat berjalan lebih efektif.
“Prinsip yang terus kami dorong adalah sampahmu tanggung jawabmu, sampahku tanggung jawabku. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, pengelolaan akan lebih efisien dan dampak lingkungan dapat ditekan,” ujarnya.
Sebagai langkah penguatan pengelolaan sampah, DLH Kota Surakarta juga merencanakan penambahan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) pada tahun 2026.
Agung Riyadi mengatakan , jika sebelumnya Kota Solo hanya memiliki satu TPS3R yakni Mojo Makmur, ke depan akan dibangun TPS3R di empat kecamatan. Penambahan ini diharapkan dapat mengurangi beban TPA sekaligus mempercepat pengolahan sampah dari tingkat kawasan.
Sampah yang telah dipilah di TPA juga diolah agar memiliki nilai tambah, salah satunya sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya DLH dalam mengurangi volume sampah sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Sebagai komitmen jangka panjang, Pemerintah Kota Surakarta juga merencanakan akan menetapkan penanganan sampah sebagai salah satu bagian dari skala prioritas mulai tahun 2027. Sebelumnya, fokus pembangunan kota lebih diarahkan pada sektor UMKM, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta pembangunan infrastruktur.
Redaktur : Silvia Agnes









