Home Berita Hasil TKA 2026 Belum Memuaskan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Sebut Dampak Learning Loss...

Hasil TKA 2026 Belum Memuaskan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti Sebut Dampak Learning Loss Masih Terasa

62
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan capaian literasi dan numerasi murid di Indonesia masih menghadapi tantangan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak pandemi COVID-19 yang masih menyisakan persoalan pembelajaran di berbagai daerah.

Data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) mencatat, dari 8.875.362 murid yang terdaftar pada pelaksanaan utama TKA, sebanyak 8.708.891 murid mengikuti ujian sesuai jadwal. Sementara pada pelaksanaan susulan, tercatat 463.533 peserta mengikuti TKA dari total 490.551 murid yang terdaftar.

Sebelum hasil diumumkan, seluruh paket soal terlebih dahulu melewati proses verifikasi dan validasi statistik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan hasil penilaian tetap adil dan dapat dibandingkan secara setara di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, TKA menggunakan sistem penskoran klasik dengan rentang nilai 0 hingga 100. Hasil nasional menunjukkan capaian Bahasa Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Matematika pada jenjang SD maupun SMP.

Data Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) mencatat, rata-rata nilai Bahasa Indonesia jenjang SD di Jawa Tengah mencapai 65,14. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 60,14. Sementara nilai Matematika SD di Jawa Tengah tercatat 47,05, juga melampaui capaian nasional sebesar 43,41.

Keunggulan serupa terlihat pada jenjang SMP. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia murid SMP di Jawa Tengah mencapai 65,95, sedangkan rata-rata nasional berada di angka 60,83. Untuk Matematika, Jawa Tengah memperoleh nilai rata-rata 42,65, lebih tinggi dibanding capaian nasional yang tercatat 40,34.

Menanggapi capaian tersebut, Abdul Mu’ti mengaku tidak terkejut. Menurutnya, hasil yang belum sesuai harapan itu sudah diperkirakan sebelumnya karena masih adanya dampak panjang dari gangguan pembelajaran selama pandemi.

“Saya memang sudah menduga hasil TKA nasional ini belum setinggi yang kita harapkan. Karena itu saya tidak terlalu terkejut dengan hasil yang muncul,” kata Abdul Mu’ti ketika memberikan sambutan di Balai Muhammadiyah Surakarta, minggu (31/05)

Ia menjelaskan, dunia pendidikan masih menghadapi dampak yang dikenal sebagai learning loss atau penurunan kualitas pembelajaran akibat pandemi COVID-19. Kondisi tersebut juga sering disebut sebagai learning poverty yang memengaruhi kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.

Menurut Abdul Mu’ti, pandemi tidak hanya meninggalkan persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi kualitas pendidikan. Saat pembelajaran berlangsung secara terbatas, banyak murid yang tetap berstatus sekolah namun tidak memperoleh proses belajar yang optimal.

“Dulu muncul istilah schooling beyond learning, sekolah tetapi tidak belajar secara maksimal. Dampaknya masih kita rasakan sampai sekarang,” ujarnya.

Ia menegaskan rendahnya kemampuan literasi dan numerasi bukan hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara juga menghadapi persoalan yang sama setelah pandemi berakhir.

Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program penguatan pembelajaran dasar agar kemampuan membaca, memahami informasi, dan berhitung murid dapat meningkat secara bertahap pada tahun-tahun mendatang.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here