LINGKARSOLO, SURAKARTA – Ribuan peserta mengikuti Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran dengan penuh khidmat pada Selasa (16/6/2026) malam. Berjalan tanpa alas kaki dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para peserta menjalani laku tapa bisu sebagai bagian dari tradisi menyambut pergantian Tahun Baru Jawa.
Suasana hening terasa sejak kirab dimulai dari Gerbang Utama Pura Mangkunegaran di Jalan Ronggowarsito. Rombongan kemudian bergerak menuju Jalan Diponegoro atau kawasan Ngarsopuro, melintasi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, hingga Jalan Teuku Umar sebelum kembali lagi ke kompleks Pura Mangkunegaran.
Sepanjang perjalanan, lampu penerangan jalan di sepanjang rute sengaja dipadamkan untuk menjaga kekhusyukan prosesi. Peserta juga tidak diperkenankan berbicara, berfoto, maupun menggunakan telepon seluler untuk mendokumentasikan kegiatan.
Meski ribuan warga memadati sisi jalan untuk menyaksikan kirab, suasana tenang tetap terjaga. Panitia dari pihak Mangkunegaran bahkan hanya memberikan arahan dengan suara pelan agar ketertiban selama prosesi tetap terjaga.
Dalam kirab tahun ini, sejumlah pusaka milik Mangkunegaran turut dibawa mengelilingi rute yang telah ditentukan. Tercatat enam pusaka ikut dikirab, terdiri dari lima tombak pusaka dan satu pusaka yang ditempatkan di dalam jodang. Setelah prosesi selesai, seluruh pusaka tersebut kembali dibawa masuk ke dalam istana.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam kirab adalah GPH Paundrakarna atau Gusti Paundra. Putra KGPAA Mangkunegara X itu bertugas sebagai cucuk lampah atau pemimpin barisan terdepan yang memandu jalannya kirab sepanjang rute.
Selain keluarga besar Mangkunegaran, Wali Kota Surakarta Respati Ardi bersama Ketua TP PKK Kota Surakarta Venessa Respati juga turut mengikuti laku tapa bisu bersama ribuan peserta lainnya.
Usai mengikuti kirab, Respati menyampaikan bahwa tradisi Malam 1 Suro memiliki makna lebih dari sekadar pelestarian budaya. Menurutnya, momen tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri.
“Alhamdulillah, acara yang luar biasa. Ini merupakan peninggalan dari para leluhur yang harus terus kita lestarikan sebagai bentuk kekayaan budaya yang dimiliki dan diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Respati.
Ia menilai laku tapa bisu mengajarkan setiap orang untuk sejenak berhenti dari kesibukan sehari-hari dan merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui selama setahun terakhir.
“Momentum Malam 1 Suro ini menjadi ruang untuk merefleksikan diri, mengoreksi apa saja yang masih menjadi kekurangan selama setahun terakhir, dan berkomitmen untuk menjadi lebih baik di tahun yang akan datang,” katanya.
Setelah seluruh rangkaian kirab selesai, KGPAA Mangkunegara X keluar menuju Pamedan untuk membagikan udhik-udhik dan Berkah Dalem Suro kepada masyarakat yang telah menanti sejak sore hari. Tradisi yang berlangsung turun-temurun tersebut kembali menjadi pengingat bahwa budaya Jawa tidak hanya berisi prosesi seremonial, tetapi juga sarat dengan nilai introspeksi dan kebijaksanaan hidup.
Redaktur : Silvia Agnes








