Home Berita Jelang Kartini, Astrid Widayani Tegaskan Kebaya Bukan Sekadar Busana

Jelang Kartini, Astrid Widayani Tegaskan Kebaya Bukan Sekadar Busana

87
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Di tengah derasnya arus budaya modern, keberadaan kebaya justru masih bertahan dan terus berkembang di Surakarta. Hal ini terlihat dari aktivitas Komunitas Pecinta Kebaya Solo yang konsisten menjaga tradisi, sekaligus menarik minat masyarakat lintas generasi.

Komitmen itu mendapat perhatian dari Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, saat menghadiri acara silaturahmi komunitas di Taman Balekambang, Kamis (9/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi atas peran komunitas dalam merawat warisan budaya.

Menurut Astrid, kebaya bukan sekadar busana tradisional yang dikenakan dalam acara tertentu. Lebih dari itu, kebaya memiliki makna mendalam sebagai simbol identitas perempuan Indonesia sekaligus bagian dari perjalanan sejarah bangsa.

“Saya sangat mengapresiasi komunitas Pecinta Kebaya Solo. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya kelompok tertentu,” ujarnya.

Momentum menjelang peringatan Hari Kartini juga menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam menjaga nilai-nilai budaya. Astrid menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam meneruskan tradisi kepada generasi berikutnya, termasuk dalam menjaga eksistensi kebaya.

Ia juga menyoroti keberagaman latar belakang anggota komunitas tersebut. Mulai dari usia muda hingga senior, dari berbagai profesi dan lingkungan sosial, semuanya bisa bersatu dalam satu semangat yang sama, yakni melestarikan budaya.

“Dari sini kita belajar bahwa budaya adalah milik semua. Siapa pun bisa ambil bagian, tanpa melihat latar belakang,” imbuhnya.

Keberagaman itu dinilai menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah perubahan gaya hidup yang serba modern, kebaya tetap mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai aslinya.

Lebih lanjut, Astrid berharap gerakan berkebaya tidak berhenti sebagai simbol semata. Ia mendorong agar komunitas juga terlibat aktif dalam pembangunan kota melalui kolaborasi dengan pemerintah.

“Pemkot Surakarta memiliki Asta Cita Solo yang mencakup kesehatan, pembangunan, penguatan SDM, hingga budaya. Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar gerakan budaya ini juga memberi dampak bagi pembangunan,” tegasnya.

Sementara itu, Komunitas Pecinta Kebaya Solo terus menunjukkan eksistensinya melalui berbagai kegiatan. Mulai dari edukasi budaya, kampanye berkebaya, hingga pertemuan rutin yang melibatkan masyarakat luas.

Langkah ini dinilai efektif dalam menghidupkan kembali tradisi berkebaya, terutama di kalangan generasi muda. Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif, kebaya kini tidak lagi dipandang sebagai busana kuno, melainkan bagian dari gaya hidup yang tetap relevan di era modern.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here