Home Berita Midodareni Dhaup Ageng Mangkunegaran, Gusti Sura Jalani Malam Persiapan Jelang Pernikahan

Midodareni Dhaup Ageng Mangkunegaran, Gusti Sura Jalani Malam Persiapan Jelang Pernikahan

33
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Prosesi Midodareni menjadi salah satu rangkaian penting menjelang pernikahan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dalam Dhaup Ageng Mangkunegaran. Prosesi yang berlangsung di Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026) malam, ini menjadi momen persiapan calon pengantin putri sebelum memasuki akad nikah.

Rangkaian Midodareni dimulai pukul 19.00 WIB. Dalam tradisi Jawa, malam Midodareni merupakan waktu bagi calon pengantin perempuan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Malam tersebut juga lekat dengan kepercayaan tentang hadirnya widodari atau bidadari yang menyempurnakan kecantikan calon pengantin.

Selama prosesi berlangsung, Gusti Sura berada di Bale Warni yang merupakan area Keputren. Calon pengantin putri tidak diperkenankan keluar dari tempat tersebut hingga rangkaian tradisi selesai.

Sementara itu, calon pengantin laki-laki bersama para laki-laki dari keluarga calon mempelai putri menuju Pendapa Ageng. Rombongan datang dari Dalem Prangwedanan sebelum mengikuti sejumlah tahapan adat.

Agenda malam itu meliputi penyerahan seserahan, Miyos Dalem, hingga Tumuruning Kembar Mayang. Kembar mayang yang dikeluarkan dalam prosesi tersebut kemudian ditempatkan di beberapa lokasi sesuai tata cara adat Mangkunegaran.

Setelah sambutan, suasana Pendapa Ageng dilanjutkan dengan penampilan Beksan Srimpi Sura Asmara sekitar pukul 19.50 WIB. Pertunjukan tari klasik ini menjadi bagian dari rangkaian malam Midodareni. Selanjutnya, acara ditutup dengan Wilujengan Majemukan yang dijadwalkan berlangsung pukul 21.00 WIB.

 

TARI GAMBYONG LANGEN KUSUMO

Sebelum memasuki malam Midodareni, rangkaian persiapan Gusti Sura juga diwarnai penampilan Tari Gambyong Langen Kusumo dalam prosesi Langkahan dan Siraman pada Kamis (5/11/2026).

Tarian yang dibawakan lima abdi dalem putri Kawedanan Langen Praja tersebut menggambarkan perjalanan seorang anak perempuan yang tumbuh menuju kedewasaan.

“Tarian ini menggambarkan seorang anak remaja yang sedang tumbuh dewasa, mulai mengenal dirinya, dan memperhatikan penampilannya,” ujar Fatma Dayuning Satami, salah satu penari.

Pertunjukan tersebut diiringi tembang Pangkur dan Gamelan Kyahi Naga Lima. Kehadirannya menjadi bagian dari penggambaran perjalanan Gusti Sura menuju tahap kehidupan baru melalui rangkaian tradisi dan seni yang terus dijaga di Pura Mangkunegaran.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here