Home Berita Solo Heritage Festival 2026 Angkat Tema “Rupa Rasa Warisan”, Ajak Anak Muda...

Solo Heritage Festival 2026 Angkat Tema “Rupa Rasa Warisan”, Ajak Anak Muda Kenali Cagar Budaya Lewat Konsep Vintage

52
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kembali menggelar Solo Heritage Festival (SHF) 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Purbakala Nasional tersebut akan berlangsung pada 12-14 Juni 2026 di Taman Balekambang dan nDalem Sasana Mulya.

Tahun ini, festival mengusung tema “Rupa Rasa Warisan”. Tema tersebut menggambarkan kekayaan warisan budaya Kota Solo yang tidak hanya terlihat dari bangunan bersejarah dan benda cagar budaya, tetapi juga dari tradisi, kesenian, serta nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, menjelaskan bahwa Solo Heritage Festival bukan sekadar agenda hiburan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana edukasi sekaligus upaya mengajak masyarakat ikut menjaga warisan budaya kota.

“Warisan budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan atau benda bersejarah, tetapi juga merawat nilai, cerita, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Melalui Solo Heritage Festival 2026, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal, mencintai, dan terlibat dalam pelestarian budaya Kota Surakarta,” ujarnya saat jumpa pers di Kantor Disbudpar Surakarta, Jumat (5/6/2026).

Pada pembukaan festival nanti, Wali Kota Surakarta dijadwalkan hadir membuka acara di Taman Balekambang. Setelah pembukaan, kegiatan  dilanjutkan dengan senam bersama menggunakan lagu-lagu senam populer era lampau dan peninjauan berbagai aktivitas festival.

Maretha juga menyoroti perkembangan pelestarian cagar budaya di Kota Solo. Saat ini terdapat lebih dari 100 bangunan yang telah ditetapkan maupun diduga sebagai cagar budaya. Pemerintah juga memberikan insentif kepada pemilik bangunan cagar budaya sebagai bentuk dukungan pelestarian.

“Yang terpenting adalah memberikan pemahaman kepada pemilik bangunan. Mereka perlu mengetahui manfaat yang didapat sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan. Selama ini mereka juga terus berkonsultasi dengan kami terkait perawatan bangunan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan penyelenggara festival, Angga, mengatakan konsep vintage sengaja dihadirkan untuk mendekatkan budaya kepada kalangan muda. Menurutnya, pendekatan yang lebih ringan dinilai lebih mudah diterima dibandingkan penyajian budaya yang terkesan formal.

“Kami ingin anak muda datang, menikmati, lalu mengenal budaya dan museum dengan cara yang lebih santai. Karena konsep vintage sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan bisa dinikmati lintas generasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan berbagai benda yang dulu akrab digunakan masyarakat kini telah menjadi bagian dari budaya vintage, mulai dari telepon umum hingga berbagai koleksi hobi seperti sepeda, motor klasik, musik lawas, dan barang antik lainnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung dapat mengikuti beragam kegiatan, antara lain Pasar Nostalgia, Lomba Storynomic Warisan Budaya, Lomba Desain Batik, Lomba Mewarnai Cagar Budaya, pameran lukisan bertema cagar budaya, panggung hiburan seni, hingga penghargaan penutup festival.

Festival ini juga menghadirkan bincang film dan pemutaran film yang berlatar cagar budaya Kota Surakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dwi Putri, Herda Wahyu, dan Fanny Chotimah.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berharap, Solo Heritage Festival 2026 mampu memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pelestarian cagar budaya sekaligus memperkaya daya tarik wisata budaya di Kota Surakarta.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here