Home Berita Bukan Cuma Batik, Solo Kembangkan Kampung Jamu di Jayengan sebagai Ikon Wisata...

Bukan Cuma Batik, Solo Kembangkan Kampung Jamu di Jayengan sebagai Ikon Wisata Baru

88
0

LINGKARSOLO, SEMARANG – Kota Solo terus mencari cara untuk memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong sektor pariwisata. Setelah lama dikenal dengan kampung batik dan warisan budayanya, kini Solo mulai mengembangkan konsep Kampung Jamu yang diproyeksikan menjadi destinasi wisata baru berbasis kesehatan dan budaya.

Rencana tersebut mencuat dalam peluncuran Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN) yang digelar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Semarang, Selasa (9/6). Dalam program itu, Kelurahan Jayengan dipilih sebagai salah satu lokasi intervensi atau pilot project di Kota Surakarta.

Pemerintah Kota Surakarta melihat potensi besar yang dimiliki Jayengan untuk berkembang sebagai pusat edukasi sekaligus destinasi wisata jamu. Selain memiliki tradisi pengobatan herbal yang masih bertahan, Solo juga dikenal sebagai salah satu daerah dengan ekosistem industri jamu yang cukup kuat.

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani mengatakan, budaya jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Solo sejak lama. Karena itu, pengembangan kampung jamu dinilai sejalan dengan upaya menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

“Kami berharap Jayengan dapat menjadi percontohan. Kalau Solo selama ini dikenal memiliki kampung batik, ke depan kami berharap juga dapat tumbuh sentra atau kampung jamu yang menjadi destinasi wisata baru sekaligus pusat edukasi jamu aman bagi masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan data Balai POM Surakarta tahun 2025, Kota Solo memiliki 4 Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT), 9 Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), serta 63 fasilitas distribusi obat bahan alam. Jumlah tersebut menunjukkan aktivitas produksi dan distribusi jamu yang cukup besar untuk ukuran kota perkotaan.

Tak hanya industri formal, tradisi jamu gendong juga masih mudah ditemui di berbagai sudut kota dan pasar tradisional. Keberadaan pelaku usaha tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi budaya jamu di tengah perkembangan zaman.

Pemkot Surakarta juga terus memberikan pendampingan kepada pelaku usaha melalui pelatihan, pengurusan legalitas, sertifikasi halal, hingga penguatan pemasaran digital agar produk jamu lokal semakin berdaya saing.

Selain sebagai produk kesehatan tradisional, jamu juga dipandang memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan wellness tourism atau wisata kesehatan. Solo dinilai memiliki ekosistem yang lengkap, mulai dari tradisi minum jamu, layanan spa tradisional, kuliner sehat, hingga berbagai aktivitas berbasis budaya.

“Ke depan, jamu akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan wellness tourism di Kota Surakarta,” kata Astrid.

Dengan dukungan BPOM dan berbagai pihak, Solo optimistis kampung jamu di Jayengan dapat menjadi ikon wisata baru yang memperkuat citra kota budaya sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here