Home Berita Java Man Art Festival 2026 Hidupkan Sangiran, Bupati Sragen Dorong Pertemuan Budaya...

Java Man Art Festival 2026 Hidupkan Sangiran, Bupati Sragen Dorong Pertemuan Budaya Dunia

102
0

LINGKARSOLO, SRAGEN – Kawasan Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, menjadi ruang pertemuan seni dan budaya dalam Java Man Art Festival 2026, Sabtu (17/10/2026). Festival ini menghadirkan beragam pertunjukan seni sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah Sangiran kepada masyarakat internasional.

Bupati Sragen Sigit Pamungkas bersama Wakil Bupati H. Suroto membuka festival yang berlangsung di Lapangan Krikilan tersebut. Sejumlah penampil dari berbagai daerah turut memeriahkan acara, mulai dari seniman mancanegara, drama musikal, penampilan 60 sinden Sragenan, hingga kolaborasi 30 penari dalam Tari Pari Wengker.

Kegiatan ini juga dihadiri sekitar 70 mahasiswa dari berbagai negara. Kehadiran mereka menjadi kesempatan untuk mengenal kesenian tradisional Indonesia sekaligus melihat lebih dekat kawasan yang menyimpan jejak panjang perjalanan manusia.

Dalam sambutannya, Sigit Pamungkas menilai Sangiran memiliki potensi besar untuk menjadi tempat pertemuan kebudayaan dengan cakupan yang lebih luas. Menurutnya, kawasan tersebut bukan hanya penting dari sisi sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan Sragen.

“Di Sangiran, peradaban itu sudah dimulai 1,7 juta tahun yang lalu,” kata Sigit saat memberikan sambutan.

Ia menjelaskan, jejak peradaban yang tersimpan di Sangiran menjadi pengingat bahwa wilayah tersebut memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah manusia. Berbagai peninggalan masa lalu juga menyimpan jejak karya, pemikiran, serta gagasan dari manusia yang pernah mendiami kawasan itu.

Karena itu, penyelenggaraan Java Man Art Festival dinilai sejalan dengan upaya mempertemukan berbagai kebudayaan melalui pertunjukan seni. Sigit menyebut, festival tersebut dapat menjadi awal untuk menghadirkan kegiatan serupa dengan skala yang lebih besar pada masa mendatang.

“Ke depan, kita bisa membuat acara titik temu peradaban yang lebih luas lagi,” ujarnya.

Sigit juga membayangkan Sangiran menjadi tempat berkumpulnya berbagai kebudayaan Nusantara, bahkan dunia. Ia berharap festival tersebut mampu menarik lebih banyak pengunjung yang ingin mempelajari sejarah sekaligus menikmati kekayaan seni dan budaya Indonesia.

Menurutnya, kekuatan sejarah yang dimiliki Sangiran dapat menjadi modal untuk mengembangkan potensi daerah. Ia ingin nilai-nilai yang diwariskan dari masa lalu dapat memberikan inspirasi bagi pembangunan Kabupaten Sragen.

“Peradaban di Sangiran bisa menjadi inspirasi untuk kita semua, Sragen yang lebih maju, Sragen yang lebih makmur, dan Sragen yang lebih sejahtera,” tuturnya.

Antusiasme terhadap pertunjukan seni juga dirasakan mahasiswa asal Turkmenistan, Humay Talimova. Ia mengaku senang dapat menyaksikan berbagai penampilan tari dalam festival tersebut.

Humay juga menyampaikan ketertarikannya terhadap kesenian tradisional, khususnya gamelan. Pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung menjadi salah satu kesempatan untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat.

Melalui Java Man Art Festival 2026, Sangiran tidak hanya diperkenalkan sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang interaksi budaya. Sigit turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya festival. Ia berharap penyelenggaraan pada tahun-tahun berikutnya dapat berlangsung lebih lama dengan jangkauan kegiatan yang semakin besar.

 

Oleh : Widodo

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here