Home Berita Revitalisasi Museum Radya Pustaka Solo Dimulai, Respati Ardi Gandeng Kemenbud Perkuat Wisata...

Revitalisasi Museum Radya Pustaka Solo Dimulai, Respati Ardi Gandeng Kemenbud Perkuat Wisata Edukasi

138
0

LINGKARSOLO, SURAKARTA – Upaya memperkuat sektor wisata edukasi di Kota Solo mulai dilakukan melalui rencana revitalisasi dua museum utama. Salah satunya adalah Museum Radya Pustaka yang menjadi ikon sejarah dan budaya di Kota Bengawan.

Kepastian ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, saat mendampingi Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam kunjungan kerja di Museum Radya Pustaka, Kamis (26/03/2026).

Respati menjelaskan, bantuan dari pemerintah pusat akan difokuskan pada pembenahan fasilitas museum agar lebih modern dan sesuai dengan perkembangan zaman. Ia menyebut langkah ini sekaligus mempertegas posisi Solo sebagai kota budaya dan destinasi wisata unggulan.

“Kami mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat untuk merevitalisasi dua museum utama di Surakarta, salah satunya Museum Radya Pustaka. Ini menegaskan posisi Surakarta sebagai kota pariwisata dan budaya,” ujar Respati.

Menurutnya, revitalisasi tidak hanya menyentuh perbaikan fisik bangunan, tetapi juga mengubah cara museum berfungsi. Museum diharapkan menjadi ruang edukasi yang hidup dan mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

Selain itu, Respati juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap warisan sejarah. Ia menilai museum memiliki peran penting sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Di sisi lain, Fadli Zon memberikan apresiasi terhadap kekayaan koleksi Museum Radya Pustaka. Ia menyoroti keberadaan manuskrip kuno seperti Serat Yusuf dan Wulangreh yang dinilai memiliki nilai sejarah tinggi.

Fadli menegaskan, digitalisasi menjadi salah satu fokus utama dalam program revitalisasi tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keutuhan naskah yang rentan rusak sekaligus memperluas akses penelitian.

“Langkah ini krusial untuk pelestarian fisik naskah yang rapuh. Dengan digitalisasi, kita memudahkan akses penelitian tanpa merusak fisik naskah,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia juga mendorong adanya perubahan dalam penyajian informasi di museum. Konsep storytelling dan penataan koleksi yang lebih menarik dinilai mampu mendekatkan museum dengan generasi muda.

“Cara menarik anak muda adalah dengan memberikan sentuhan storyline dan penataan yang menarik. Museum memang menyimpan masa lalu, tapi juga menjadi jendela untuk melihat masa depan,” pungkas Fadli.

Dengan dukungan dari pemerintah pusat ini, museum di Solo diharapkan tidak lagi sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi berkembang menjadi pusat literasi budaya yang interaktif dan diminati berbagai kalangan.

 

Redaktur : Silvia Agnes

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here