LINGKARSOLO, SURAKARTA – Persaingan Lomba Gapura 2026 di Kota Surakarta memasuki tahap akhir. Dari lebih dari 180 gapura yang sebelumnya mengikuti perlombaan, kini tersisa 10 finalis yang harus melewati penilaian lanjutan untuk menentukan pemenang.
Penilaian dilakukan Dewan Juri yang berasal dari sejumlah unsur. Setelah tiga lokasi dinilai pada Jumat, penilaian dilanjutkan ke tujuh lokasi lainnya untuk melihat secara langsung karya gapura yang masuk dalam 10 besar Senin pagi (10/08/26)
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, turut melihat proses penilaian tersebut bersama Cat Weldon, salah satu pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Ia mengaku kagum dengan konsep yang ditampilkan masyarakat di masing-masing wilayah.
“Alhamdulillah sudah terpilih sepuluh besar yang hari ini kami melanjutkan penilaian. Bagus-bagus semua. Saya sampai bingung ini memilih yang mana menjadi pemenang,” ujarnya.
Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada penggunaan warna atau tampilan yang meriah. Detail gambar, perpaduan warna, kondisi lingkungan sekitar, hingga kemampuan gapura menunjukkan karakter Kota Solo turut menjadi pertimbangan.
Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah penggunaan unsur budaya dalam desain gapura. Sejumlah finalis memasukkan motif batik ke dalam karya mereka. Hal tersebut dinilai memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya.
“Banyak yang sangat detail, kaitannya dengan motif-motif batik. Ini yang menjadi satu ciri khas Kota Solo, kota budaya, yang ternyata bisa ditampilkan melalui media tembok, melalui cat,” jelasnya.
Selain batik, Astrid juga melihat keterlibatan seniman dan pegiat budaya dalam proses pembuatan gapura. Setiap wilayah memiliki karakter visual yang berbeda, baik dari goresan, pilihan warna maupun konsep yang digunakan.
“Yang menarik bagi saya ternyata para seniman-seniman di Kota Solo yang tinggal di satu wilayah itu sangat kental memberikan gambaran ciri khas goresan warna-warna di gapuranya masing-masing,” ungkapnya.
Ia menilai keterlibatan tersebut menjadi bukti bahwa potensi seni dan budaya di tingkat kampung masih hidup. Kreativitas warga kemudian dituangkan dalam karya yang bisa dinikmati masyarakat.
“Jadi saya lihat muncul banyak sekali seniman-seniman dan juga pegiat budaya yang ada di wilayah masing-masing yang hadir di sebuah karya besar ini. Itu yang menarik bagi saya,” katanya.
Lomba Gapura 2026 juga diharapkan menjadi kegiatan yang mampu memperkuat kebersamaan warga. Selain menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan ini dinilai dapat mendorong semangat gotong royong di tingkat wilayah.
Astrid mendorong agar kekayaan Solo seperti batik, wayang, destinasi wisata dan berbagai unsur budaya lainnya terus dimunculkan melalui kreativitas masyarakat.
“Untuk kegiatan penyambut 17-an ini merupakan semangat bersama-sama untuk menggerakkan masyarakat lebih guyub, gotong royong, dan menunjukkan bahwa potensi Kota Solo mulai dari batik, wayang dan juga destinasi-destinasi yang ada di Kota Solo ini sudah patut untuk dimunculkan atau ditampilkan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Redaktur : Silvia Agnes









